Berkah Berhijab Di Jerman - Part 2

  • September 04, 2016
  • By Enfadhilah Amrullah
  • 0 Comments



Setelah part 1 cerita tentang berhijab masa-masa Studienkolleg* disini saya mau lanjut lagi cerita saat setelah masuk kuliah ceritanya akan sedikit sama tapi sedikit berbeda juga jadi keep reading!!!

Setelah lulus Studienkolleg saya balik dulu ke Indonesia untuk beberapa bulan liburan bersama keluarga di Makassar, senang sekali diajak keliling ke rumah keluarga yang pertama dikunjungi ke rumah kakek dan nenek dari pihak ayah. Nah nenek saya ini orangnya masih sangat seru diajak sharing dan beliau juga adalah guru pendidikan agama islam di SMA dulunya, beliau juga yang langsung nanya cerita seru apa selama di jerman yaudah cerita dah tuh sampai cerita tentang berhijab juga. Lalu beliau ngomong "tunggu nak,di jerman tetap pakai hijab?" "hah? iye lah nenek aji,masa tidak" saya menjawab, lalu beliau langsung istigfar, lah? kenapa ?! karena selama ini nenekku percaya kalau saya di jerman itu gak pakai jilbab, karena beliau tahunya di sana gak boleh pakai jilbab kata beliau, beliau istigfar dan minta maaf karena selama ini udah suuzon (bersangka buruk) sama saya, haha lucu banget nenek sendiri loh gak percaya kalau saya istiqomah #cie

Masa Kuliah
Saya memutuskan kuliah disalah satu kota terletak di Jerman paling timur (lagi) dikenal dengan nama Görlitz, kotanya menyerempet Polandia banget dibatasi hanya dengan sebuah sungai, kota ini gak begitu besar tapi gak sekecil Köthen juga, Görlitz adalah bagian Landkreis Freistaat Sachsen dengan penduduk sekitar 259 859 (november 2015).

Memutuskan kuliah di kota yang tidak begitu besar dan allein (sendiri) karena jurusan yang saya inginkan hanya di kota ini akhirnya memberanikan diri saja menjadi satu-satunya orang indonesia yang kuliah di Görlitz ini (dulunya sih ada 1 orang lagi yang kuliah di sini juga tapi baru 1 kali ketemu akhirnya dia pindah gitu aja)  

Jadi yang dulunya berhijab masih ada teman sesama orang indonesia yang berhijab, sekarang benar-benar 1 kampus  atau mungkin dalam 1 kota ini menjadi satu-satunya yang berhijab. -,-


Hari Pertama Kuliah
Karena pengalaman yang lalu-lalu saya pikir akan ditanya juga mengapa pakai hijab dll, tetapi kenyataannya tidak ada yang bertanya. Dunia perkuliahan kelihatannya memang sangat berbeda mungkin saya juga sudah terlihat cukup dewasa untuk mengambil keputusan sendiri apa yang akan saya pakai, tidak ada dosen yang bertanya, iyaa juga sih dalam Hörsaal (aula seminar) yang isinya puluhan orang gak ada waktu cuman nanya kenapa saya pakai hijab . Hahaha

Classmate
Sama halnya dengan dosen-dosen, teman-teman sekelas yang duduk dekat saya gak ada tuh yang langsung nanya kenapa saya berhijab, itu dia tadi sudah kuliah berarti umurku juga sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan yang mereka penasaran hanya bagaimana saya bisa mulai kuliah diumur yang sangat muda dan bisa berbahasa jerman hehe bangga.com :p . Banyak yang mengira saya murid pertukaran hanya 1 semester atau beberapa bulan saja ikut belajar, tapi saya jawab saya sama seperti kalian, ikut kuliah normal, iya kami hanya lebih senang membahas hal seperti itu daripada hijab. Benar-benar jauh dari yang kubayangkan.

Housemate
Setelah teman sekelas, saya juga punya teman rumah sejak awal masuk saya sudah tinggal di apartement (Dormitory) untuk lebih dari 1 orang jadi dapur,wc sharing dengan yang lain. Teman rumahku selalu orang jerman, sampai akhirnya memutuskan pindah rumah agar dekat dengan 2 teman kelasku, karena ini lebih menyenangkan, kita se-kelas, se-jurusan dan  se-rumah hahaha tidak ada yang lebih baik, belajar dan bertanya tinggal 5 langkah ngetuk kamar mereka, teman rumah sekaligus teman kelasku ini berasal dari jerman dan ceko. Mungkin karena kita serumah jadi kita ketemu lebih sering dan kadang masak dan makan bersama , nah saat seperti inilah mereka baru banyak bertanya tentang mengapa saya berhijab, apa itu muslim dan ada satu yang menarik perhatian mereka saya tidak makan daging bila tanpa cap halal!! iya ini hal yang terus kita perdebatkan mereka belum bisa mengerti konsep halal-haram makan padahal ini hanyalah sebuah ayam bukan babi, ya terserah merekalah ya~

Musim Panas
Musim Panas di Jerman benar-benar PANASSSSS. Kampus di Jerman peraturannya sama semua kalau gak salah mahasiswanya boleh pakai baju apasaja ke kampus, nah! karena musim panas jadilah semua bule nih (padahal kalau disini saya yang bule :p) ke kampus pakai hotpants dan tanktop saja yuhuu... iyalah kan panas! lalu saya?! Berhijab lah tetap!gimanasih-,-.Saya sering,selalu,always ditanya teman lain "kepanasan gak?" pengen jawab "IYALAH panas" tapi dalam hati ngomong "AKAN LEBIH PANAS NERAKA MBA MAS BRO" dan kata-kata yang keluar kenyataanya " ah iya panas sih tapi biasa aja, Indonesia kan panas juga jadi sudah biasa"... hmm kalau mau jujur ini "agak" sedikit bohong sih, memang Indonesia lebih panas, tapi kita di Indonesia panasnya stabil, maksudnya yaaa sepanjang tahun memang panas jadi mau gimana lagi! Tapi beda di Jerman setelah musim dingin yang suhu nya bisa sampai minus derajat dalam wantu 3-4 bulan jadi panas...kan pasti selama di Jerman tubuh saya juga menyesuaikan diri jadi pas masuk musim panas saya pastinya kepanasan juga. -,-

Bule-bule al4y
Hahaha maksudnya berkah lainnya kalau jalan ketemu bule suka nongkrong gitu gak digodain atau disuit-suitin langsung, mungkin karena mereka mikir dulu ini cewe kenapa deh pakai tutup kepala karena mereka kelamaan mikir gak jadi godain deh. Hehe :p

Kota Görlitz
Seperti yang saya katakan sebelumnya saya pindah bukan ke kota besar dan saat saya jalan sendiri mengenakan hijab tentunya di kota Görlitz ini adalah beberapa yang mulai melirik, tapi karena sudah biasa jadi yah biasa saja, tapi entah kerena perasaanku saja tapi kota ini lebih aman saya tetap bebas kemana saja.
Sampai akhirnya di tahun 2015 mulai muncul isu atau berita tentang ribuan pengungsi datang ke jerman. Dan tempat awal mereka sampai adalah kota - kota perbatasan yap, Görlitz perbatasan Polandia, mereka datang dari Polandia dan masuk ke jerman, sempat beberapa bulan selalu diadakan patroli polisi menggunakan helikopter agar dapat menemukan pengungsi yang sedang berjalan ini.

Pada tahun 2015 inilah saya mulai mendapatkan perlakuan yang kurang enak, saya di Görlitz sudah sejak tahun 2013 , 2 tahun terakhir sangat nyaman dan aman menurutku, sampai satu tahun lalu ini saya merasa seperti orang-orang Jerman timur yang sangat tidak menyukai orang asing (N*zi) bangkit kembali dari tidur panjang mereka di Görlitz. Saya pernah mendapatkan cemohan dari seorang kakek yang berdiri karena lewat depan dia, saya pernah bertemu anak alay yang berdiri di jalan saat saya naik sepeda padahal jalur itu untuk sepeda dan mata mereka yang mulai sangat curiga dan tiba-tiba teriak! alay banget dah. Sedih ? iya saya sempat sedih, tapi saya tidak akan menyalahkan pengungsi yang datang ke sini, TIDAK!! Siapa sih yang mau di negara sendiri terjadi perang dan terpaksa harus berpindah ke negara orang. Sempat sedih tapi saya tetap memilih untuk bersabar selama mereka tidak melakukan hal yang lebih selain mencemooh maksudnya melakukan tindakan fisik atau lainnya, toh saya juga tidak mengerti sepenuhnya kalau mereka mencemooh, kan saya tidak pernah belajar kata-kata cemooh/kotor orang jerman. Haha

Kejadian seperti ini tidak hanya terjadi di Görlitz ya, ada beberapa teman yang tinggal di kota-kota besar juga dapat perlakuan tersebut.  Walau hal-hal gak enak itu terjadi di jalan, tapi selama di kampus masih seperti biasa, bahkan dalam kelas kita sering diskusi masalah pegungsi ini dan orang Jerman yang memang duduk di bangku sekolah sangat open minded, mereka merespon baik isu pegungsi ini yang mereka tidak sukai cuman kalau ketenangan mereka diganggu misal pengungsi yang datang malah mengotori tempat umum atau membuat suara berisik dijam-jam yang tidak ditentukan ya..karena orang Jerman sangat teratur!

Hal yang tidak menyenangkan mungkin ada tapi ada juga saat saya berjalan tiba-tiba seorang anak yang menyapaku "halo" dengan senyum and make my day changed with just one smile. Thank you :) Karena sesungguhnya yang menjaga kita adalah Allah SWT jadi untuk apa takut?! ;)

Semuanya berlalu, saya kembali menjalani kehidupan normal seperti biasa berjalan megenakan Hijab dan Happy!! XD

Dalam tulisan ini saya cuman mau cerita bagaimana saya istiqomah dalam berhijab (InsyaAllah) dan menemukan berkah-berkah menjadi seorang muslimah berhijab. Cemooh itu hanya ujian kecil saja, saya tinggal di Jerman hampir 5 tahun ini aman nyaman tentram, situasi sekarang mulai baik lagi ya ya islamphobia masih ada tapi ah! biarin aja.. teman-teman saya disini tetap masih suka ngasih kado scarf buat dijadian hijab kok, kata mereka "lucu deh liat kamu pakai penutup kepala (hijab) nya ganti-ganti sesuai baju". HAHAHA #endorslahsis

Gitu girls, so.. tunggu apalagi ? Segerakanlah berhijab~ selain hukumnya juga wajib! Bahkan banyak berkah berhijab di Jerman apalagi di Indonesia yang sudah sangat nyaman untuk berhijab maka maksimalkanlah menemukan keberkahannya.


Janganlah mereka menampakkan perhiasan-nya, kecuali yang (biasa) tampak pada dirinya. Hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya (QS an-Nur [24]: 31)

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (QS al-Ahzab [33]: 59)




*Studienkolleg: sekolah pra-Universitas untuk mahasiswa asing

Liebe Grüße (k)


You Might Also Like

0 komentar